dreams

Rabu, 29 September 2010

Pengen Buat Fashion ScrapBook







Tutorial ini sy ambil dr www.collegefashion.net, coz i'm totally into fashion and scrapbook. i think it's fun 2 have a fashion scrapbook to keep some fab fashion files i found in some fashion magz that piled up for several years in the bookshelf. so, here i got the ideas from the fashion binder to arrange it...\

Making Your Fashion Binder

Do you ever have those days where you have no idea what to wear, but you know that you want to look fabulous? When those brain freezes happen to me, I always pull out my trusty fashion binder, and voila! Instant outfit inspiration!

Fashion inspiration binder

Making a fashion binder is one of the easiest and best things you can do to improve your style. All you need is a binder and lots of clear sleeves to put photos in. I pull out anything from a magazine that catches my eye, even photos where I just like the model’s hair. And then on those days where I feel like everything in my closet is absolutely wrong, I flip through the photos until I find just the right outfit for the day.

You don’t need to buy magazines to make one of these, though – you can also do this by printing out fashion photos from the internet and sticking them in the binder! It’s totally customizable and up to you: Who and what inspires you most?

So, if u love fashion as much as i do...let's try this n enjoy...

Kamis, 12 Agustus 2010

Malam Jumatan...

Kemarin, kami agak disibukkan dengan urusan menunggu tamu dari luar negeri. Entah investor, entah apa namanya...! Setelah diperkirakan tiba jam 5 sore, akhirnya tamu2 dari London itu tiba jam 8 malam. Ternyata, mereka bukan investor, melainkan jurnalis yg mau mempromosikan beberapa Kabupaten di Sulawesi Selatan. Jadilah setelah chit chat sedikit dan makan malam, mereka langsung minta waktu interview dengan Bos Besar. Berhubung interview mengenai ketertarikan mereka pada natural resources di Sinjai itu membutuhkan waktu yg cukup lama, jadilah kami memikirkan cara biar gak ketiduran. Cara ampuhnya gak lain dan gak bukan adalah memanfaatkan kamera DSLR kantor dan sibuk berpose serasa ada sesi shoot buat kalender 2011.



Sekitar Jam 23.00, kami diajak buat nemenin si tamu mengunjungi TPI Lappa, salah satu lokasi kuliner andalan Sinjai. Sampe sana mereka agak surprised krn langsung dihadapkan sama baronang bakar dan kawan2nya. "We just had dinner!!" cetus salah satu dari mereka dengan muka bengong. Jadilah mereka ditawarin makan baronang tanpa nasi. Yang cewek makan dengan bengong, yg cowok makan dengan lahap banget, "Jangan disia-siakan" katanya...hehe, bagus juga prinsipnya nih bule.

Jam 00.15, akhirnya kami bisa pulang juga...mata dah sepet2 gimana gitu minta tidur, badan juga dah pegel mondar-mandir sana-sini...! Dalam hati saya berpikir,"Kira2 besok saya masuk kantor jam berapa yah?"...

Selasa, 10 Agustus 2010

1431...

MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN....SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA BUAT SEMUANYA!!
SEMOGA PUASANYA SUKSES DAN RAMADHAN INI BAWA BANYAK BERKAH BUAT KITA SEMUA
SEMOGA RAMADHAN INI BISA BIKIN KITA SEMUA BENAR-BENAR KEMBALI KE FITRAHNYA....AMIN YA RABBAL ALAMIN....~wishfully written ;)~

Kamis, 22 Juli 2010

The Rain, The Bus, The Alley, and You…

Me & My Tomodachi....(2)

Ini adalah cerpen yang dibuat sahabat saya Witty. Kami terakhir ketemu tahun lalu. Salah satu orang yang paling saya rindukan. Dan cerita ini sukses bikin saya nangis...Thankyou wit buat cerita ini, i love it!


The Rain, The Bus, The Alley, and You…

Pukul 17.30
Jumat, hari ke sembilan di tahun 2009

Matahari sudah benar-benar tenggelam ke balik cakrawala. Sinar kemerahannya yang sesaat lalu masih tersisa, kini telah menghilang berganti awan gelap yang bergelung memenuhi langit. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Hujan yang sangat lebat kurasa, mengingat sesorean ini udara terasa begitu lembab dan angin berhembus begitu kencang. Sejak tadi, daun-daun bergerak kacau ke sana-kemari. Begitu pula bunga-bunga di tiap ujung rantingnya. Sebagian besar mereka yang tidak mampu lagi bertahan, akhirnya berguguran, melayang menutupi jalan. Burung-burung perenjak pun tidak lagi tampak bertengger di atas dahan. Semuanya sudah terbang tinggi dan jauh, mungkin mencari peraduan yang nyaman, sebelum Sang Kuasa Alam menjentikkan jemari dan membuat awan di atas sana menumpahkan semua isinya ke permukaan bumi.

Aku duduk dengan manis di dalam bus; di atas kursi tepat berseberangan dengan pintu. Tempat favoritku. Dengan jejeran kursi yang memutari sisi dalam bus dan jendela-jendelanya yang tinggi, sejujurnya ini adalah kendaraan yang agak membosankan bagi penumpangnya. Karena, jika kau tidak membawa novel atau ipod kesayanganmu, hal yang bisa kau nikmati di sisa perjalananmu adalah wajah penumpang lain di seberangmu, atau stiker no smoking pada kaca jendela di atasnya, atau ujung sepatumu sendiri. Tentu saja, kecuali jika kau duduk di kursi tempat di mana aku duduk sekarang. Di sini sama sekali tidak akan terasa membosankan. Berhadapan dengan pintu bus yang lebar sepenuhnya, adalah jendela kaca transparan, kau akan disuguhi pemandangan luar selama perjalanan. Entah bagi orang lain, tapi bagiku ini adalah hal yang menyenangkan. Mengamati apa yang terjadi di luar sana , apa pun itu, seperti menonton sebuah film dengan episode-episode lepas yang bisa kuterjemahkan sesuka hatiku. Begitulah. Aku melihat banyak hal, mengamatinya dan menikmatinya.

Aku melihat para pejalan kaki di trotoar. Dengan tergesa, mereka melangkah; sebagian menunduk, sebagian menudungi wajah. Mereka berusaha menghalau angin yang begitu kuat berhembus, debu yang beterbangan dan dedaunan kering yang berhempasan kesana-sini. Dan aku tersenyum. Aku merasa lega karena ada di tempat yang lebih nyaman. Tanpa khawatir ada angin; tanpa khawatir ada debu.

Aku melihat para pengendara motor di sisi jalan. Mereka begitu serius dengan kemudi masing-masing, berusaha mencari ruang agar bisa saling mendahului. Cuaca yang tengah tidak bersahabat ini memberi godaan yang begitu besar pada mereka untuk secepatnya tiba di tempat tujuan. Dan aku pun tersenyum. Aku senang tengah berada di dalam bus. Di sini aku tidak perlu mengkhawatirkan cuaca, atau apa pun.

Aku melihat para pedagang di pinggir jalan. Mereka terburu-buru memasang berlapis-lapis peneduh untuk dagangan mereka, seolah berlomba dengan kekuatan alam. Mereka bertahan, merapatkan pakaian dan jaket untuk menghalau dinginnya udara; sementara yang lainnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing mencari kenyamanan dan kehangatan. Dan aku tersenyum. Di dalam bus, aku tidak perlu khawatir akan rasa dingin atau khawatir akan kebasahan karena hujan yang kapan saja bisa turun.

Aku melihat beberapa anak kecil berkejaran di trotoar. Mereka bermain dengan plastik sampah yang melayang-layang terbawa hembusan angin, saling mendorong satu sama lain dan bersenda-gurau. Untuk sesaat, mereka terlihat sangat menikmatinya, sebelum tiba-tiba berlarian dan menghilang ke balik sebuah rumah. Kilatan cahaya petir membuat mereka ketakutan rupanya. Aku pun tersenyum. Berada di dalam sini, aku bisa bersandar dengan tenang di kursiku. Aku tidak perlu mengkhawatirkan gemuruh suara petir; atau apa pun juga.

Lalu, aku melihat jalan itu. Akhirnya bus yang kunaiki tiba di sebuah lampu merah, dan berhenti begitu persis di muka jalan tersebut; hingga keseluruhan jalan bisa terbingkai sempurna di dalam frame pintu berkaca di hadapanku. Tidak ada apa pun di sana . Tidak ada pejalan kaki, pengendara motor, pedagang, atau pun anak-anak yang berkejaran. Hanya jalan lurus yang panjang, kosong dan sepi. Jalan yang begitu kukenal. Jalan tahunan kebelakang sering sekali aku lalui. Teramat sering. Namun sekarang tidak lagi, karena yang selalu kutuju dulu sudah tidak ada lagi di sana kini.

Dan semua ingatan pun muncul kembali. Berurutan, bagai terproyektor tepat di depan mataku. Tanpa cela. Hari-hari itu. Saat-saat itu. Tentang dirimu.

Dan hujan pun turun. Akhirnya. Titik-titiknya membasahi semua hal yang tiada berteduh. Langit pun menggelap sepekat-pekatnya dan angin bertiup sekencang-kencangnya. Dan aku tidak lagi tersenyum.

--Dedicated to some one, whom I always miss every single day since she’s leaved--

Rabu, 21 Juli 2010

BEDA ITU INDAH, TANPA BASA-BASI ATRIBUT!

Tentang saya dan dia...(1)

Beda itu indah. Saya pernah mendengar itu, suatu hari, entah kapan, sudah lama sekali. Beda itu indah. Begitu juga yang berlaku dalam hubungan mars dan venus, seperti yang saya kutip dari sebuah tabloid wanita. Beda itu indah. Karena berbagi persamaan itu biasa, tapi mengharmonisasikan perbedaan itu luar biasa.

Banyak yang bilang kami itu terlalu berbeda. Yup, it's too obvious to say. Orang paling blo'on di dunia juga pasti bisa melihat itu. Banyak yang bilang kami nggak cocok. Well, bicaralah tentang atribut maka anda akan menemukan begitu banyak ketidakcocokan.

A friend said to me one day, "Could you throw away those differences?". Waktu itu saya masih berpikir. Sulit.
Setelah lama saya pikirkan, maka 'atribut'lah yang membuat saya tak bisa mengesampingkan perbedaan. Andaikan manusia bisa hidup harmonis tanpa 'atribut', mungkin saya bisa melakukannya.

Awalnya, atribut ini-itu membuat saya lelah. Di satu sisi sulit menerima, di sisi lain tak mau melepaskan. Time has passed dan saya mulai berpikir. Beberapa perbedaan membuat saya punya warna baru dalam hidup. Saya bisa melihat dunia baru, yang dulu mungkin takkan menarik hati saya sama sekali. Saya mungkin (seperti most people) belum bisa 100% melepaskan viewpoint dan judgement berdasarkan atribut. Tapi, saya dengan berbesar hati dan bersungguh-sungguh sedang berusaha menghargai perbedaan, mencintai perbedaan, menikmati perbedaan tanpa basa-basi atribut!

It's me, aprilia nurmala dewi, yang tak sedang bicara tentang tetek bengek prinsip, yang hanya sedang berusaha menggali hidup dari sudut yang baru, yang berharap bahwa perbedaan-perbedaan itu bisa benar-benar jadi warna yang tak mengubah prinsip.

To my dearly luved one...we're different, they said. We're different, you said. We're different, i knew it. I'm just trying to live happily in those differences. Just let me...

Selasa, 20 Juli 2010

Kelapa Ajaib

Senin lalu, saya bareng adek dan teman2 saya janjian untuk menghadiri acara nikahan teman prajab kami. Setelah itu (berhubung dikantor ga da kerjaan), salah satu dari teman saya ngasih ide untuk nongkrongin es kelapa muda andalan di Jl. Persatuan Raya, depan Wisma Hawai, yg katanya paling enak di Sinjai. Entah karena kehausan atau mau ngebuang semua racun, Ika (tetangga, teman kantor, teman ngider, teman ini dan itu...)yg notabene si empunya ide, mesen segelas es kelapa muda plus sebiji kelapa muda lagi. Setelah kami enek ngabisin es kelapa muda masing2, Ika masih aja sibuk dgn kelapanya yang bulet sebiji. Tunggu punya tunggu...Ika nyeletuk,"Nih kelapa ndak abis-abis!!". Awalnya kami cuma cekikikan. Tapi beberapa menit kemudian, dia nyeletuk lagi, "Serius, ini kelapa ndak abis-abis!" sambil ngintip kedalam kelapa melalui lubang kecil seiprit tempat nengkrengnya sedotan. Alhasil, kami jadi ikut2an ngintipin si kelapa bulet yg katanya gak abis-abis itu. "KELAPA AJAIB" itulah akhirnya hasil musyawarah untuk mufakat. Kelapanya yang memang ajaib ato kemampuan Ika aja yang terbatas...! Estimasi yang agak bego memang hehe. Jadilah, waktu mau bayar, Reny (salah satu teman dan rela jadi driver baik hati)bilang sama si penjual. "Brapa semuanya? es kelapa 4, kelapa ajaib 1"....

Senin, 19 Juli 2010

tas bagus, tas murah...yuk mariii!!!

Normalnya perempuan, emang paling gak bisa mengontrol diri klo dah ngeliat barang bagus. Tadi, masih pagi-pagi dan masih di kantor pula, teman dari ruangan sebelah bawa barang dagangan tas. Spontan, teman satu bagian yang sama shopaholicnya sama saya, bereaksi cepat. Jadilah kami pagi-pagi dah ribut dan ribet memilih-milih tas; mana yang bagus, mana yang lucu, mana yang nggak pasaran, mana yang warnanya nggak norak, dan berapa harganya. Waktu temen cowok saya nelpon, automatically dia jadi terperangkap dalam sahut-sahutan, "Ini nih, warna ijo-nya nggak pasaran..", "Yang ini pas deh sama baju hansip, buat hari senin", "Yang ini agak mahalan, 170" serta bla-bla-bla yang lain. Temen cowok saya itu langsung komen,"Kayak di pasar!". Saya pun cuma sedikit cekikikan dan mengiyakan. Wong memang begitu faktanya.


gambar ini mirip sama tas yg tadi dijual dan saya taksir, warnanya sama tapi satu lagi berwarna coffee creme...gak sama persis tapi lumayan representatif untuk dijadikan ilustrasi

Syukurlah setelah lama berkutat dengan tas-tas itu, salah satu dari kami mutusin untuk membeli salah satu tas (yg menurut saya paling bagus). Kenapa saya bilang syukur, karena biasanya...hal yang paling gak ngenakin kalo ada setumpuk jualan, segerombolan calon pembeli, sejuta komentar, dan berkali-kali pose dengan barang jualan akhirnya hanya berakhir dengan "Lain kali yah...tunggu tanggal muda". FIUHH!!

Tapi inilah seninya menjadi cewek, mulai dari nongkrongin barang dagangan orang, menimbang-nimbang kelamaan, sampe memutuskan membeli barang pilihan sesuai selera (walau pada kasus saya, sering membeli tanpa alasan yang rasional). Intinya...kami cewek hanya berusaha menyenangkan diri, memuaskan hati, menampilkan yang terbaik, dan memberi jalan pahala bagi orang yg memuji kami jika kami tampil lebih baik...menurut anda???